Senin, 21 Desember 2015

MAHASISWA; ANTARA AKADEMIK, ORGANISASI DAN GAYA HIDUP.





Satu-satunya kaum yang memperoleh status Maha adalah mahasiswa. Menjadi mahasiswa adalah kesempatan. Masuk organisasi adalah pilihan. Ya, dari sekian anak negeri ini yang lulus dari Sekolah Menengah Atas/Kejuruan (SMA/SMK) hanya sebagian kecil yang meneruskan pendidikan ke perguruan tinggi. Oleh karena itu, masyarakat selalu menaruh harapan terhadap kaum muda yang bergelut dengan dunia intelektual  dan tergolong dalam kaum elit ilmiah ini. Namun jika melihat fenomena sebagian besar mahasiswa saat ini,  harapan yang ada pada mahasiswa menjadi telaahan tersendiri. Hal ini karena dalam fakta banyak mahasiswa yang apatis dengan upaya pengembangan dirinya sendiri maupun menunjukan kepedulian terhadap kehidupan sosial.
Sebagai golongan generasi muda, mereka adalah generasi pejuang, penerus bangsa dan pewaris segala sumber daya yang ada di bangsa  dan menghubungkan antara masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang.  Mahasiswa tidak hanya sekedar dijuluki sebagai kaum elit ilmiah tetapi juga generasi brilian yang mampu menyuarakan dan mewujudkan kepeduliannya yang diejawantahkan dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi.
Jika dulu generasi muda dan mahasiswa berjuang dengan mengangkat senjata, perang opini dan taktik dalam politik untuk memerdekakan bangsa hingga saat ini kita nikmati Indonesia yang sudah berkembang dan modern. Sebagai contoh mahasiswa Stovia bergabung dalam Boedi Oetomo mereka berjuang untuk kemerdekaan Indoensia dalam jalur diplomasi. Kemudian secara local dan kedaerahan, dalam club toonel Kelimutu yang didirikan oleh Soekarno ketika pembuangannya di Ende, Pemuda-pemuda saat itu bukanlah mahasiswa atau kaum terpelajar. Tapi mereka punya hiden agenda dan  bergabung dengan club toneel tersebut dan memainkan sandiwara yang berbau tuntutan  kemerdekaan. Itulah profil generasi muda  saat itu. Namun bagaimana  dengan kondisi mahasiswa  saat ini yang sudah banyak kaum elit ilmiahnya yang bernama mahasiswa? 
Dalam realita  ketika awal mereka menyandang status mahasiswa (semester-semester muda) masih nampak gaya lugu, penurut ataupun mengikuti semua kegiatan yang diprogramkan dari perguruan tinggi baik dari sisi akademik maupun non akademik. Namun dalam perjalanan selanjutnya watak  dan gaya hidup mulai nampak. Ada mahasiswa yang rajin & getol dalam kegiatan akademik maupun dalam upaya pengembangan diri, ada yang malas, ada yang kuliahnya hanya untuk senang-senang, ada yang hanya focus dengan kegiatan akademik, ada yang hanya aktif  dalam dunia organisasi namun lupa dalam urusan akademik. Ada pula yang menganut budaya instanisme semuanya menunggu curahan dari Dosen.
Disisi lain juga terdapat fenomena gaya hidup mahasiswa yang tidak jelas seperti kuliah hanya untuk gagah-gagahan (prestise social) sehingga mau urusan akademik ataupun berorganisasi tidak dipedulikan (apatis).  Belum lagi ada oknum-oknum mahasiswa yang menciptakan kasus ditengah jalan dengan tahu dan mau mencelakakan dirinya dalam kumpul kebo yang mengakibatkan hamil diluar nikah. Selanjutnya ada pula yang  bergaya hidup hedonis dengan tidak pernah peduli dengan pengembangan diri dan apatis terhadap realita kehidupan social di masyarakat. Inilah realita mahasiswa yang berubah seiring dengan seleksi alam dan zaman.
Dipihak lain, faktor  mahalnya biaya pendidikan, menuntut mahasiswa untuk menyelesaikan studi tepat waktu apalagi jika dituntut oleh orang tua/pihak yang membiayai perkulihan untuk focus hanya dalam kuliah dan segera menyelesaikan pendidikannya. Sehingga segala energi dikerahkan untuk menggondol gelar sarjana sesegera mungkin atau dapat dikatakan selama aktif kuliah tujuannya adalah mendulang nilai diakhir semester atau yang penting lulus. Tak ayal lagi tren study oriented mewabah di kalangan sebagian mahasiswa tanpa mempedulikan upaya pengembangan diri (soft skill) apalagi peduli dengan realita kehidupan masyarakat.


Tapi apakah cukup dengan hanya mengandalkan ilmu dari perkuliahan dan indeks prestasi yang tinggi untuk mengarungi kehidupan pasca wisuda? Ternyata tidak. Dunia kerja yang akan digeluti oleh alumnus perguruan tinggi tidak bisa diarungi dengan modal indeks prestasi. Ada elemen yang lebih penting, yakni kemampuan soft skill. Kemampuan ini terkait dengan kemampuan berkomunikasi dan bahasa, bekerja dalam satu team, serta kemampuan memimpin dan dipimpin. dimana seseorang harus bisa menunjukan soft skill-nya; tentang kepemimpinan, kemampuan komunikasi, menjalin koneksi, hingga skill managerial.
Kapabilitas soft skill ini tidak diajarkan secara akademik atau terstruktur dalam kurikulum dengan total SKS yang harus ditempuh. Softskill, bisa didapatkan melalui organisasi-organisasi mahasiswa, baik itu Organisasi Intra Kampus seperti Badan Eksekutif Mahasiswa, HMPS, HMJ, Unit Kegiatan Mahasiswa, Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala), dan Koperasi Mahasiswa, maupun Organisasi Ekstra Kampus semisal Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Persatuan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI), Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI), Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia, atau organisasi-organisasi bersifat kedaerahan maupun komunitas-komunitas kemahasiswaan dan lain sebagainya. Lewat media dan forum inilah seorang mahasiswa bisa menempa diri, dengan menambah kemampuan softskill & hardskill, belajar berinteraksi dengan banyak pemikiran, belajar tentang manajerial yang di dalamnya terkandung dari sisi perencanaan, organisir, action, control/pengawasan, dan evaluasi.
Hal yang ingin penulis tegaskan di sini adalah keberadaan organisasi mahasiswa menjadi penting karena kemanfaatannya berdampak pada mahasiswa itu sendiri. Mungkin ada yang takut ketika masuk organisasi waktu belajarnya akan terganggu yang pada akhirnya berpengaruh kepada lamanya studi. Penulis katakan memang ada sebagian kecil mahasiswa yang lalai kuliah akibat terlalu sibuk mengurus organisasi. Tapi kenyataan juga membuktikan, betapa banyak penggiat organisasi yang berhasil lulus tepat waktu, dan dengan indeks prestasi yang sangat memuaskan dan bahkan cumlaude. Sehingga itu bukan menjadi barometer. Faktor utamanya adalah  bagaimana seseorang mahasiswa mampu memaneg waktu antara kuliah, organisasi dan kehidupan sosialnya.
 
Selain berfungsi sebagai media pengembangan diri, organisasi mahasiswa merupakan wahana bagi mahasiswa berempati dengan situasi yang terjadi di masyarakat. Negara berkembang layaknya Indonesia, banyak dihadapkan masalah-masalah sosial terutama menyangkut kemiskinan, pelayanan kesehatan, kesenjangan ekonomi, dan ketidakberdayaan dalam menyampaikan aspirasinya, dan ketidakstabilan politik. Organisasi mahasiswa membawa para anggotanya bersinggungan langsung dengan persoalan-persoalan ini, sekaligus mengugah rasa kritis untuk mencari solusi atas apa yang terjadi.
Organisasi mahasiswa menjembatani domain antara kampus sebagai rumah elit ilmiah dengan masyarakat sebagai wadah pembelajaran langsung. Sehingga, ketika terbiasa menghadapi problem kehidupan organisasi, mahasiswa tidak lagi canggung bergumul dengan ruang baru ia dituntut untuk bertanggung jawab dan harus mampu menyelesaikan persoalan, baik di masyarakat maupun di dunia kerja selepas lulus dari perguruan tinggi.
Mahasiswa tanpa organisasi tak ubahnya seorang pelajar tanpa pengalaman lapangan. Mereka tak lain kecuali siswa lanjutan yang hanya belajar materi akademik. Mereka hanya mementingkan bagaimana menjadi orang pintar tanpa merenungkan bagaimana mentransformasikannya dalam kelangsungan hidup masyarakat.

Tidak bisa dipungkiri bahwa teori tidak selalu sama dengan realitas
, ketika ia pintar dengan Indeks Prestasi yang tinggi tapi kemampuan penyampaikan idenya mandek. Ia gugup dan gemetar ketika hendak berbicara didepan umum bagaikan gempa tektonik 7,7 SR.  Ia piawai dalam  berteori, genius sekalipun dalam mengerjakan soal, belum tentu dia bisa memecahkan persoalan yang dihadapi oleh masyarakat maupun dalam dunia kerja. Idenya penuh dalam kepala tapi sulit untuk menyalurkan karena kemampuan berkomunikasinya minim. Pada titik inilah, organisasi dijadikan wadah pengembangan diri  oleh mereka yang mengaku betul-betul mahasiswa.

Secara factual misalnya di Desa,  ketika seseorang menjadi mahasiswa, dalam pandangan masyarakat desa  mahasiswa dikenal sebagai kaum ilmiah yang mampu. Masyarakat tidak berpikir si mahasiswa A atau mahasiswa B mengambil program studi apa/basic ilmunya apa, yang masyarakat tahu bahwa sebagai mahasiswa tentunya ia mampu berbicara, mampu memanej suatu kegiatan. Apalagi ketika ia sudah jadi sarjana. Sebagai contoh kecil, jika kita melihat realita, hampir beberapa alumni sebuah PT (sarjana) saat ini ketika berada di tengah masyarakat tidak mampu menunjukan identitas dan kemampuannya sebagai seorang sarjana. Malahan masyarakat yang hanya berpendidikan, SD, SMP, SMA yang mampu berbicara, baik sebagai MC, Memimpin rapat ataupun menggerakan suatu kegiatan.  Ini menjadi sampel kecil dari riwayat selama seseorang menjadi mahasiswa.

Kalau hanya ingin mencari ilmu pengetahuan, seseorang tidak perlu repot-repot menjadi mahasiswa dan mengeluarkan biaya yang cukup banyak. Dia bisa belajar secara autodidak dengan membaca koran dan buku ilmiah serta internet atau menyimak diskusi yang dipublikasikan oleh media televisi, misalnya. Namun, dia tidak boleh terlalu banyak bermimpi untuk bisa menjadi leader (pemimpin) dalam sebuah komunitas karena kepemimpinan adalah bagian penting dalam pengalaman organisasi, bagaimana ia harus mampu berkomunikasi, bernegosiasi, dan menjalankan fungsi-fungsi manajemen.
Sehingga beberapa pihak yang peduli dengan eksistensi mahasiswa mengklasifikasi mahasiswa saat ini berbagai  tipe misalnya; Tipe Kupu-Kupu : Kuliah Pulang-Kuliah Pulang : Tipe ini setelah selesai kuliah lalu pulang tanpa memikirkan apa yang harus dibuat  untuk pengembangan dirinya. Tipe Kusen : Kuliah Untuk Senang-senang : Tipe ini hanya menjadikan status mahasiswa sebagai ajang untuk senang-senang dan menunjukan euphoria dengan gaya hidup yang hedonis dan lain sebagainya.

Pada pihak lain, ada juga beberapa oknum mahasiswa yang sudah bergabung dalam suatu organisasi atau menjadi aktivis juga berpola yang sama dengan mahasiswa yang tidak pernah mengenal organisasi. Bergabung dengan organisasi juga kadang hanya untuk memiliki embel-embel aktivis, mereka tidak mau mengetahui apa yang akan dilakukan ketika sudah bergabung dalam organisasi, budaya instan juga mewabah dikalangan aktivis sehingga tidak mau mencari tahu apa yang perlu dan harus dilakukan dan menunggu curahan ilmu dna pelatihan dari organisasi. Ibarat aktivis quovadis yang tidak tahu kemana arahnya. Sehingga hal ini pataut dipertanyakan akan status aktivisnya.
Demikian pemikiran mini ini, semoga bermanfaat bagi pembaca dan lebih khsus kepada mereka-mereka yang sudah menjadi mahasiwa.

OLEH : IHSAN D.



Jumat, 18 Desember 2015

MENGENAL OBAT-OBAT HERBAL TRADISIONAL ENDE LIO

OBAT OBAT HERBAL ENDE LIO

Kesehatan adalah harta. Sebanyak apapun uang yang bisa kita miliki namun jika tubuh sakit rasanya uang tersebut seperti tidak ada artinya. Seperti saudara-saudara kita yang bahkan mampu untuk membeli makanan enak, mobil mewah kapanpun setiap saat namun karena hipertensi, makanan tersebut tidak bisa dinikmati olehnya.

Dewasa ini penderita penyakit degeneratif makin lama makin meningkat seiring meningkatnya tingkat ekonomi dan perubahan pola makan masyarakat Indonesia. Hal ini bisa kita lihat seperti menjamurnya restoran-restoran terutama di kota-kota besar, restoran tersebut biasa penuh sesak pada hari sabtu, minggu atau hari libur.
Pengobatan herbal dengan ramuan-ramuan tradisional sebetulnya bukanlah hal yang baru, pengobatan herbal sudah digunakan sejak zaman nenek moyang atau leluhur kita. Akan tetapi dengan perkembangan zaman dan budaya hidup instan orang lebih memilih obat-obat kimiawi yang ternyata juga memiliki efek negative terhadap tubuh manusia itu sendiri.

Seiring dengan munculnya kesadaran kembali ke alam (back to nature) orang-orang mulai memanfaatkan kembali ramuan-ramuan tradisional untuk mengobati ataupun menjaga kesehatan tubuhnya. Demikian pula di wilayah Ende Lio, sejak dahulu nenek moyang orang ende lio sudah mengenal dan memanfaatkan tanaman-tanaman maupun sumber daya alam lainnya untuk menjaga kesehatan dan mengobati yang sakit. Sehingga tidaklah mengherankan jika leluhur kita dari sisi jiwa, raganya lebih kuta dan usianya lebih panjang.

Di bawah ini kami mencoba memaparkan beberapa obat-obat herbal tradisional dan kegunaannya yang merupakan warisan nenek moyang kita ata (orang) Ende Lio ;

1. Wunu Kala (Daun Pagangan/sering diistilahkan dengan daun Ende)

Berguna untuk mengobati sakit demam pada anak, untuk mengobati darah tinggi. mengobati wasir, mengobati muntah darah, mimisan dan batuk darah, mengobati bisul, mengobati mata bengkak dan memerah, untuk menambah nafsu makan pada anak, dll


2. Wunu Nggawa Ngura (Daun Jambu Muda)

Berguna untuk mengobati sakit perut, Menurunkan Kolesterol, Mencegah Diabetes, Mengurangi Masalah Diare, Memperbaiki Pencernaan, Mengobati Demam Berdarah, Mengobati Alergi, dll


3. Muku (Pisang)

Pisang dari akar hingga buah memiliki manfaat yang beragama. Daun pisang Berguna untuk menurunkan panas pada anak-anak, bermanfaat untuk mengobati buang air besar berdarah dan berlendir, membantu mengatasi mimisan, Mengatasi radang pada tenggorokan, Meredakan batuk dan sakit dada, Untuk mengobati luka bisa memanfaatkan hati batang pisang, Untuk mengobati demam, mata dan  luka bakar, Mengobati demam, sakit mata dan  luka bakar dapat menggunakan daun pisang yang masih muda untuk lebih menyejukkan. Merawat rambut, Untuk kesehatan rambut dapat memanfaatkan cairan dari bonggol pisang. Anakan batang pisang dapat menormalkan sakit tulang akibat kecelakaan.


4. Wunu Uta Ba’I (daun Pepaya)

Pepaya selain buahnya yang mengandung vitamin namun Daun Pepaya juga Berguna untuk mengobati malaria, Mengobati luka baru jika dicampur dengan gula, Melancarkan Pencernaan, Mengatasi Tekanan Darah Tinggi, Melancarkan ASI Ibu Menyusui, Memperkuat Tulang Dan Gigi, Mengempukkan Daging, dll


5. Wunu Kesi/Ku’i Kesi (Daun Reo dan Kulit Pohon Reo)

Pohon Ini di jawa dikenal dengan sebutan jawa atau pohon kudo. Bagi orang flores dikenal dengan nama pohon reo. kulit Pohon ini Berguna untuk menghentikan pendarahan akibat luka ringan. penawar bisa racun.Pucuk daun dari pohon  ampuh untuk penawar bisa (racun) binatang berbisa, seperti ular atau gigitan serangga.  Caranya pucuk daunnya secukupnya kemudian ditumbuk  boleh dicampur dengan garam secukupnya  lalu oleskan pada luka.


6. Wunu Advokad (Daun Advokad)

Advokad selain buahnya yang lezat namun daunnya bermanfaat untuk mengobati nyeri lambung dan nyeri saraf, mengobati kencing batu, mengobati darah tinggi, mengobati menstruasi yang tidak teratur bagi kaum hawa, mengobati penyakit batu ginjal, mengobati sakit Pinggang, dll.


7. Sambiroto (Sambiloto)

Tanaman ini terkenal diseluruh Indonesia. Namun untuk orang ende jenis tanaman ini juga sudah dikenal sejak dahulu kala. Dia berfungsi Untuk menurunkan panas , mencegah kanker, menurunkan tekanan darah tinggi, mengobati penyakit tifus, menjaga stamina dan daya tahan tubuh, Mengobati radang paru, Mengobati sakit gigi,mengobati radang saluran pernapasan, Efektif untuk menawar racun, dll


8. Somu (Bawang Merah)

Selain sebagai bumbu masakan bawang merah juga berguna untuk mengobati berbagai jenis penyakit misalnya untuk menurunkan panas, megobati animea, meredakan sakit perut, mengobati gangguan urin, mengobati gula darah, sebagai pengganti amoniak untuk orang yang pingsan, mencegah terserang penyakit TBC, mengobati penyakit jantung, mengobati luka karena gigitan serangga dan masih banyak manfaat lain dari bawang merah.


9. Sunga (Bawang Putih)

Kawan dari bawang merah ini juga bermanfaat Untuk mengobati penyakit mag atau tukak lambung, mengobati sakit gigi, menurunkan berat badan, menurunkan kolesterol, sebagai sumber anti bakteri/virus, mengobati flu dan demam, mengobati diabetes, mengontrol berat badan, menyembuhkan penyakit kulit seperti panu, mengatasi racun yang ada dalam tubuh, menyembuhkan luka, menghilangkan gatal karena jamur, meredakan nyeri, mengobati radang tenggorokan dll.


10. Kune (Kunyit)

Untuk mengobati beberapa jenis penyakit misalnya luka dalam, mengurangi lemak, diabetes,mencegah kanker, Mengurangi Risiko Serangan Jantung dan Stroke, Melawan Demam dan Flu, Menyembuhkan Gangguan Pencernaan dan Menurunkan Berat Badan, menyembuhkan batuk darah, meningkatkan stamina, membantu persalinan, menambah nafsu makan, mengobati borok dan koreng, mengobati usus buntu, mengobati penyakit thyfus, dll.


11. Wunu Kembo dan Esa Kembo (Daun dan Buah Mengkudu)

Daun mengkudu sendiri adalah menyembuhkan ambeien secara alami, mengobati perut kembung pada anak. Sedangkan bagi kecantikan, daun mengkudu berfungsi sebagai obat penghilang jerawat dan obat pelangsing tubuh alami.Buah mengkudu bermanfaat untuk mengobati penyakit jantung, Mencegah kanker, Mengatasi kulit bersisik, Menyehatkan tulang.


12. Wunu Sarikaya (Daun Sirsak)

Manfaat daun sirsak lainnya adalah untuk mengobati hipertensi atau tekanan darah tinggi dengan cara meminum air rebusan daun secara teratur sampai tekanan darah menurun, Mengobati stroke ringan, Mengurangi kadar kolesterol, Ramuan tradisional untuk kejang, Obat tradisional untuk penyakit kanker.


13. Nata dan Wunu Nata/Mengi (Sirih dan Daun Sirih)

Untuk daun manfaatnya Dapat menyembuhkan penyakit asma, menyembuhkan radang pada tenggorokan, menyembuhkan penyakit kulit seperti eksim, melancarkan haid yang tidak teratur, menghilangkan bau mulut, mengatasi keputihan, mengobati sariawan, mengobati demam berdarah, mengobati luka bakar, mengobati penyakit sifilis. Sedangkan buah sirih bermanfaat mengobati sakit atau nyeri tulang, mengobati stroke, melancarkan peredaran darah.


14. Wunu Nata/Mengi Toro (Daun Sirih Merah)

Mengobati Diabetes Melitus Batu Ginjal Hepatitis Radang Liver Menurunkan Kolesterol Mencegah Stroke Asam Urat Hypertensi Radang Prostat Radang Mata Keputihan Maag Kelelahan Nyeri Sendi Memperhalus Kulit Ambeian


15. Keu/Eu (Buah Pinang)

Mengatasi penyakit seperti haid dengan darah berlebihan, hidung berdarah (mimisan), koreng, bisul, kudis dan mencret, Sakit pinggang, Rabun Mata, Meningkatkan gairah seks kaum pria, Mengobati luka kulit, Obat cacingan, menguatkan gigi dan gusi dan meningkatkan stamina dan gairah seksual.


16. Kerwali (BrotoWali)

Membersihkan Dan Menguatkan Darah Anti Malaria Anti Radang Menyembuhan Luka Dan Penyakit Kulit Menurunkan Gula Darah Menurunkan Panas Mengatasi Alergi Gatal-Gatal Jerawat Dan Menghaluskan Kulit.


17. Mbindi (Belimbing Wuluh)

pengobatan reumatik, mengobati penyakit batuk, Menurunkan panas tinggi dan demam, Mengobati diabetes, Mengobati pegal linu.


18. Wunu Karara ( Daun Sukun)

Bagi orang Ende, karara (Sukun) sudah tidak asing lagi. Terkenalnya pohon sukun karena di bawah pohon sukunlah Soekarno merenung tentang Pancasila. Terlepas dari hal tersebut daun sukun memiliki beberapa khasiat misalnya untuk mengobati asam urat, untuk menyembuhkan sakit ginjal, meyehatkan jantung, mengobati diabetes, mengobati penyakit lever.

19. Kamu Ki (Akar Alang-alang)

Mengobati penyakit batu ginjal, menyembuhkan infeksi ginjal, mengobati kencing batu, menyembuhkan penyakit batu empedu, mengobati keputihan, menyembuhkan air kencing berdarah, menyembuhkan mimisan, mengobati sakit radang hati. menyembuhkan hepatitis. menyembuhkan demam. mengobati penyakit radang paru-paru. menyembuhkan gangguan pencernaan, Mengobati muntah darah, mengobati Kencing bernanah.

20. Ae Nio Ngura (Air Kelapa Muda)

Menghilangkan Dehidrasi, Meningkatkan sistem kekebalan tubuh, Menyembuhkan Penyakit Batu Ginjal, Menurunkan berat badan, Mengurangi Tekanan Darah Tinggi, bagi ibu hamil bila rajin minum air kelapa muda terutama di trimester ketiga kehamilan maka air ketuban akan bersih dan bayi yang dilahirkan juga bersih kulitnya, lebat rambutnya dan bening matanya.

21. Wunu Fate (Daun Kemangi)

Melancarkan aliran darah, Menjaga kesehatan organ jantung, Mengobati sariawan, Meningkatkan kekebalan tubuh, Membantu perkembangan tulang, Untuk mengobati panu, Pengobatan Infeksi Kulit, Mencegah Rambut Beruban, Pencegahan Rambut Rontok, mengatasi masalah gangguan pencernaan, mual, infeksi usus, radang lambung, serta gas dalam usus.

22. Wunu Waru (Daun Waru)

Mengobati TBC dan sakit paru-paru, Mengobati penyakit batuk, Mengobati amandel yang membengkak, Menyembuhkan radang usus, Mengatasi buang air besar berdarah, Mengobati muntah darah, menghentikan pendarahan.


23. Lea (Halia)

Haliah terdapat beberapa jenis. Namun umumnya mengandung manfaat seperti membantu untuk memperbaiki aliran darah dan pegal-pegal atau mengobati rematik dan encok, Pencegahan Demam dan Selesema, mengobati stroke (halia merah), mengobati panu, mengobati diare dan muntah-muntah, mengatasi masuk angin, membantu pencernaan agar lancar, mengatasi sakit perut atau lambung dengan menempelkan parutan haliah di perut, dll.


24. Nilu/Tuga (Jeruk Nipis)

Mengobati ambient, mengobati amandel, mengobati batuk, mengobati Batu Ginjal, Mencegah Rambut Rontok atau Berketombe, mengobati Radang dan lendir Tenggorokan, mengobati Kurap atau Panu dll.


25. Mbangga (Jeruk Purut)

Buah jeruk purut dapat menyembuhkan Influenza, menghilangkan kulit yang bersisik dan mengelupas, Perawatan Gigi Dan Gusi, menyembuhkan bau badan, menghilangkan pusing. Sedangkan daun jeruk purut dapat dimanfaatkan untuk Penyembuhan Setelah Sakit Keras, Untuk Kleso, Bengkak, Masuk Angin, Luka dan Patah Tulang dll.


26. Boda (Labu Putih)

Boda atau labu putih bentuknya panjang dan menjukur ke bawah. Boda berkhasiat untuk Mengobati penyakit thypus, menurukan panas tubuh, untuk mengobati tekanan darah tinggi, mengobati diabetes, memperlancar proses pencernaan, meningkatkan organ hati, dll.


27. Tewu (tebu)

Mengobati Batuk, Meredakan Panas Tubuh, Meredakan jantung Berdebar, Melawan Kanker Payudara, mengatasi peradangan tenggorakan, mengatasi mimisan, mengatasi masuk angin, mengatasi stroke  dll.


28. Taru (Tarum)

Tarum tidak hanya dikenal sebagai pewarna untuk tenun ikat namun juga bermafaat untuk kesehatan misalnya, akar tarum bermanfaat untuk pengobatan sakit gigi, daunnya berguna untuk mengobati penyakit epilepsy, mengobati bisul.


29. Wunu Koro (Daun Cabai/Lombok)

Bermanfaat untuk pengobatan bisul, mengobati sakit perut, menghilangkan jerawat, menghilangkan bekas luka, menghentikan pendarahan.


30. Uma (Lamtoro)

Mengobati diabetes, Mengobati disentri, Mengobati radang ginjal, Mengobati cacingan, mengobati luka memar, mengobati kencing manis, menghentikan pendarahan, mengobati cacingan dll.


31. Seku (Kencur)


Sejak jaman dahulu, kencur telah dikenal sebagai tanaman obat yang banyak digunakan untuk membantu mengobati berbagai macam penyakit. Manfaat kencur antara lain adalah untuk membantu meringankan sakit kepala, influenza, keselo dan beberapa penyakit ringan lainya. Khasiat kencur juga telah dikenal sejak jaman dahulu untuk membantu mengobati penyakit lambung/mag atau masuk angin, melangsingkan tubuh, meringankan serangan penyakit migrain, mengobati asma, mengobati penyakit rematik, mengobati tetanus, batuk serta mampu menghilangkan jerawat. Mengobati radang tenggorokan, mecuci darah kotor, mengobati kencing batu, mengobati Radang pada lambung dll.


32. Laja (Lengkuas)

Makan lengkuas dapat membantu mengurangi ketidaknyamanan di perut yang disebabkan oleh peradangan atau penyakit lain. Lengkuas mengandung analgesik dan antipiretik yang dapat membantu mengurangi rasa sakit seperti demam, serta dapat mengurangi infeksi akibat bakteri dan jamur. Lengkuas dapat digunakan sebagai pengobatan infeksi saluran pernapasan, lengkuas digunakan sebagai bahan ramuan untuk mengobati reumatik dan arthritis, dll


33. Nawe (Sereh)

Sereh adalah gudang nutrisi aromatik penting yang memberikan berbagai manfaat kesehatan. Manfaat sereh misalnya, membantu mengeluarkan racun yang ada dalam tubuh, Menyembuhkan insomania, membantu membersihkan pancreas dan meningkatkan fungsi pancreas, Serai mengandung zat besi yang sangat berguna untuk ksintetis hemoglobin (protein sel darah merah yang dapat membawa oksigen keseluruh jaringan tubuh). Oleh karena itu, dengan mengkonsumsi serai dapat membantu anda menyembuhkan penyakit anemia.


34. Mage/Nangge (Asam Jawa)


Manfaat asam jawa sudah tidak tergantikan terutama untuk mengobati beberapa penyakit seperti disentri. Mengobati Penyakit ini menyerang saluran pernafasan, Mengatasi demam setelah nifas, Mengobati eksim, Mengatasi darah rendah, Mengobati ambeien, Obat batuk kering, Mengobati sariawan, Mengobati borok, Mengobati gatal alergi dan biduran, Mengobati sakit panas, Menyembuhkan luka, Mengobati rematik, Mengobati gatal pada bekas luka yang sudah kering, dll.


35. Sule (Inggu atau godong dalam bahasa jawa)

Bermanfaat untuk mengobati Demam, influenza, batuk, radang paru, ayan (epilepsi), hepatitis; Kejang pada anak, kecikutan (singultus, hiccup), kolik, cacingan,; Histeri (hysteria), nyeri ulu hati, nyeri dada dan hernia, bisul,; Haid tidak teratur, tidak datang haid (amenorrrhea),; Radang kulit bernanah, memar akibat benturan benda keras, ; Gigitan ular berbisa dan serangga, Keracunan obat atau racun,; Pelebaran pembuluh darah balik (vena varikosa),; Radang vena (flebitis) dll.


Ele Doi Ki Bhondo, Ele Ka Ghi Ji’e, Ele muri mera laka sa’o lepa eo gaga, demi ura baja laje, penyaki mera leka tebo, doi bhondo ka ji’e guna gana iwa. (Sekalipun Uang Banyak, biar makannya enak,, hidup dan tinggal di rumah yang mewah, namun jika badan terasa letih dan loyo dan penyakit hinggap di badan maka semuanya tidak akan berguna).


Demikian beberapa jenis obat herbal dari Ende Lio. Besar harapan pembaca sekalian dari generasi Ende Lio dapat menambahkan semoga makin memperkaya pengetahuan dan bermanfaat untuk kita.


OLEH : IHSAN D.

Rabu, 16 Desember 2015

MENGENAL JENIS & MOTIF TENUN IKAT ENDE LIO

Kain-Tenun-Ikat-Ende Lio

Pada postingan sebelumnya penulis pernah memaparkan tentang tenun ikat ende lio ditengah hegemoni tekstil modern. Kali ini penulis mengajak pembaca sekalian untuk mengenal lebih dekat macam-macam kain tenun ikat ende.

Pada masyarakat Ende Lio kegiatan menenun merupakan pekerjaan pokok bagi kaum hawa disela-sela kegitan di dapur maupun dikebun. Menenun  merupakan tradisi yang diwariskan secara turun temurun. Hampir setiap ibu-ibu melakukan aktifitas tersebut untuk memenuhi kebutuhan hidupnya baik untuk kepentingan urusan adat istiadat maupun berkaitan dengan ekspresi nilai estetika dan juga untuk kepentingan ekonomi.

Seperti tulisan sebelumnya bahwa tenun ikat ende lio ditengah hegemoni tekstil modern pamornya kalah dengan kain-kain tiruan/imitasi tekstil modern. Namun kini masih ada secercah harapan untuk mengangkat kembali eksistensi kain tenun ikat.

Mungkin diantara kita pernah membaca pada traveler.detik.com tanggal 21/8/2015 dengan judul Tenun Ikat, Kain Khas Ende Yang Mendunia. Tenun ikat Ende dengan motifnya yang khas seringkali diburu traveler untuk oleh-oleh. Tak hanya traveler lokal, traveler mancanegara pun banyak yang mengincar kain tenun Ende untuk dibawa pulang ke negaranya.

Sehingga dengan fenomena belakangan ini pamor produk atau karya kerajinan tangan (handmade) berhasil mendapatkan gengsi tersendiri bagi sebagian kalangan masyarakat perkotaan; terutama mereka yang menghargai produk seni dan budaya tradisional. Kain tenun ikat tidak dibuat menggunakan mesin yang dapat menghasilkan banyak barang sekaligus dan seragam. Karenanya, saat Anda membeli selembar kain ikat, dapat saja itulah satu-satunya yang ada di dunia. Tak ada barang hasil karya tangan yang persis sama. Terlebih lagi, kain tenun ikat dan barang handmade lainnya dibuat dengan mengandalkan beberapa indera manusia yang tentunya tidak dimiliki sebuah mesin. Indera yang dibantu akal pikiran mampu menghasilkan potensi dan kreasi yang tak terbatas dalam menghasilkan sebuah karya bernilai seni tinggi.

Sebagai generasi Ende Lio dan warga Negara Indonesia kita harusnya bangga akan warisan budaya masa lampau karena banyak sekali nilai-nilai tinggi yang terkandung didalamnya. Salah satu warisan budaya itu sendiri adalah dengan adanya keberagaman kain tradisional khususnya yaitu kain tenun ikat. Sebagaimana kita ketahui bahwa tenun ikat sebagai salah satu karya bangsa Indonesia yang tersebar luas di seluruh kepulauan Indonesia

Melalui kain tenun ikat tradisional kita dapat melihat keberagaman budaya Nusantara. Kain tidak saja hanya dilihat dari ragam motifnya namun kita juga dapat melihat jenis benang yang dipakai, teknik pembuatannya yang tradisional tetapi kita juga dapat mengenal berbagai fungsi kegunaan dan arti kain tenun ikat dalam kehidupan masyarakat sehari-hari yang dimana semua itu mencerminkan adat istiadat dan kebudayaan masing-masing daerah.

Tenun ikat atau kain ikat adalah kriya tenun Indonesia berupa kain yang ditenun dari helaian benang pakan atau benang lungsin yang sebelumnya diikat dan dicelupkan ke dalam zat pewarna alami.

Tenun merupakan salah satu jenis seni kriya Nusantara yaitu kriya tekstil. Tenun merupakan salah satu kerajinan seni yang patut dilestarikan. Seperti yang dikatakan Joseph Fisher (dalam Suwati Kartiwa, 1986: 1) Indonesia adalah salah satu Negara yang menghasilkan seni tenun yang terbesar terutama dalam hal keanekaragaman hiasannya. Dalam tenun ikat terdapat beberapa aspek yang menjadi nilai yang terkandung di dalam proses maupun hasil dari selembar tenun ikat. Aspek-aspek ini dapat diuraikan antara lain;

  1. Aspek Sosial : Dalam aspek sosial kain tenun banyak digunakan untuk upacara-upacara adat seperti kelahiran, perkawinan, ataupun kematian. Bahkan lambang dan warnanya pun telah disesuaikan.

  2. Aspek Ekonomi : Kain tenun dalam aspek ekonomi dipakai sebagai alat pertukaran. Pertukaran dalam arti barang yang dipertukarkan dengan barang lainnya.

  3. Aspek Religi : Pada aspek religi terlihat bahwa ragam hias yang diterapkan mengandung unsur perlambangan yang berhubungan dengan kepercayaan atau agama tertentu. Dalam upacara keagamaan kain tenun khusus digunakan oleh pemuka agama atau dukun.

  4. Aspek Estetika : Aspek estetika terlihat pada keterampilan, ketekunan didalam menciptakan suatu karya. Baik dari segi garis, motif dan warnanya dan menghasilkan suatu nilai estetika.


Tenun ikat atau kain tenun merupakan kriya tenun berupa kain yang ditenun dari helaian benang pakan dan lungsi yang sebelumnya diikat dan dicelupkan ke dalam pewarna. Istilah ikat didalam menenun ini menurut Loeber dan Haddon (1936) diperkenalkan di Eropa oleh Prof.A.R Hein pada tahun 1880 dan menjadi istilah dalam bahasa Belanda yang disebut ikatten dan dalam bahasa Inggris kata ikat berarti hasil selesai dari kain dengan tehnik ikat dan to ikat untuk arti proses dari tehniknya (dalam Suwati Kartiwa, 1989: 5).

Sedangkan motif yang dibuat pada jaman itu terdapat penggambaran yang berasal dari jaman Neolitikum yang diterapkan pada kain pakaian tersebut sebagai corak. Corak tersebut diantaranya seperti; nenek moyang, pohon, perahu, arwah dan sebagainya (dalam Suwati Kartiwa, 1989: 7-8).

Dalam tenunan Ende dan Lio biasanya berwarna dasar merah tua kecoklatan, ditenun dua kali dan dijahit dengan memisahkan bagian tengah (one) dan bagian kaki (ai). Bagian tengah mempunyai ikatan sebagai pola khusus, sedangkan bagian kaki senantiasa diperkecil sehingga setiap jalur itu mempunyai nama masing-masing sampai jalur yang paling kecil.

Pada kain tenunan untuk pria Ende dan Lio biasanya berwarna dasar hitam atau biru kehitaman, mempunyai jalur-jalur yang jelas sepanjang lungsin yang sejalan dengan jalurnya mendatar yang biasa disebut Ragi/Luka. Untuk tenunan wanita Ende dan Lio adalah motif Flora dan Fauna. Seperti kuda, daun, burung, lalat atau sayap lalat yang disebut lawo/zawo. Sedangkan untuk motif kain dan selendang didominasi oleh motif bunga yang diselingi garis hitam kecil diantara motif-motifnya dengan rumbai-rumbai pada bagian ujung.

Adapun beberapa jenis hasil tenun ikat dapat dipaparkan antara lain;

1.Semba (kabupaten Ende)
Jenis motif    : selendang laki-laki
Jumlah motif    : vertikal 2x4 motif, horisontal 2x6 motif
Jumlah lembar    : 2 (dua) singi, setiap Singi telah disatukan dengan bagian Onenya
Ukuran    : 200 cm x 100 cm
Bagian dari Semba  : Upu – Lere – Bharaka Lombo – Singi – One
Lokasi pembuatan  : Kelurahan Onelako dan Desa Manulondo, Kecamatan Ndona, Kabupaten Ende

Hal 44 gg
Semba adalah selendang kebesaran para Mosalaki dan Ria bewa yang dipakai pada upacara adat yang sangat ritual. Cara pembuatannya pun cukup rumit karena banyak persyaratannya.
Semba terdiri dari 2 (dua) lembar yang dijahit menjadi satu lembar selendang semba, dengan posisi motifnya saling berhubungan. Warna dasarnya adalah hitam dari nila.


Semba adalah selendang kebesaran para Mosalaki dan Ria bewa yang dipakai pada upacara adat yang sangat ritual. Cara pembuatannya pun cukup rumit karena banyak persyaratannya.
Semba terdiri dari 2 (dua) lembar yang dijahit menjadi satu lembar selendang semba, dengan posisi motifnya saling berhubungan. Warna dasarnya adalah hitam dari nila.

2. Lawo Jara Nggaja
Jenis motif    : sarung perempuan
Jumlah motif    : vertikal 10 motif
Horisontal 2x7 motif
Jumlah lembar    : 3 (tiga) lembar, terdiri dari 2 (dua) singi, 1 (satu) one
Ukuran    : 200 cm x 160 cm
Bagian dari Semba  : Upu – Lere – Bharaka lombo – Singi – One
Lokasi pembuatan   : Desa Manulondo, Kelurahan Onelako Kecamatan Ndona

Lawo Jara Nggaja
 
Nama Lawo Jara Nggaja diberikan sesuai dengan namanya atau nama dari motif Lawo tersebut yaitu “Jara Nggaja”. Warna dasarnya adalah hitam dari nila. Sarung ini adalah pakaian kebesaran bagi istri para tua adat (Mosa Laki) disekitar lokasi pembuatan dan dipakai pada saat upacara adat. Yang perlu diperhatikan adalah cara memakai sarung ini yaitu harus searah dengan motif Jara Nggaja yang berdiri, jangan sampai terbalik motif kaki dari Jara Nggaja arahnya keatas. Arti dari Jara NGGAJA yaitu KUDA dan GAJAH

3.Lawo Pundi 
Jenis motif    : sarung perempuan
Jumlah motif    :  vertikal 6 motif, Horisontal 2x4 motif
Jumlah lembar    : 3 (tiga) lembar, terdiri dari 2 (dua) singi, 1 (satu) one
Ukuran    : 200 cm x 100 cm
Bagian dari Semba    : Upu – Lere – Bharaka Lombo – Singi – One
Lokasi pembuatan    : Desa Nggela, Kec. Wolojita, Kab. Ende

Lawo Pundi

Pada dasarnya motif Lawo Pundi adalah bermotif serangga dan binatang melata. Motif ini jarang ditemui di Kota Ende. Warna dasarnya adalah hitam dari nila. Motif Lawo Pundi dibuat berdasarkan hasil tiruan dari manik-manik pada pundi-pundi di jaman dahulu sehingga Lawo Pundi bermotif persegi empat seperti pundi dengan butu seke. Lawo pundi selain dipakai oleh istri-istri Mosa Laki dan tua-tua adat di Nggela, juga dikenakan oleh para gadis keturunan Mosa Laki untuk menari tarian Mure.

4. Lawo Soke
Jenis motif    : sarung perempuan
Jenis Lawo Soke   : Soke mata ria atau mata karara dan Soke Bele Kale
Jumlah motif    : vertikal 7 motif, Horisontal 2x6 motif
Jumlah lembar    : 3 (tiga) lembar, terdiri dari 2 (dua) Singi, 1 (satu) One
Ukuran    : 200 cm x 100 cm
Lokasi pembuatan  : Desa Manulondo –, Kel. Onelako Kec. Ndona

Motif Soke dibuat berdasarkan meniru daun sukun atau wunu tere yang berdiri dan menempel pada lawo dan kata soke yang artinya menancap, sehingga dari cara menirunya yaitu pada daun sukun yang berdiri, orang menamakan jenis lawo ini yaitu lawo soke. Warna dasarnya adalah hitam dari nila. Adapun motif pada lawo ini diantaranya disisipkan dengan motif tambahan yaitu mata gami lima dan gami telu yang bentuknya seperti sayap lalat, jenis orang menamakan soke bele kale. Jenis sarung soke dan soke bele kale biasanya dijadikan sarung atau lawo pengantin perempuan disekitar lokasi pembuatannya.

a. Lawo Soke Mata Ria
Jenis motif    : sarung perempuan
Jumlah motif    :  vertikal 7 motif, Horisontal 2x4 motif
Jumlah lembar    :    3 lembar terdiri dari 2 Singi dan 1 One
Lokasi pembuatan    :    Desa Manulondo –, Kel. Onelako Kec. Ndona

Lawo Soke Mata Ria
Motif Lawo Soke Mata Ria dibuat berdasarkan meniru daun sukun yang berdiri tempel pada lawo dan kata Soke artinya menancap dan Ria artinya besar. Jadi Lawo Soke Mata Ria artinya motif daun sukun yang besar yang dimunculkan pada sarung/lawo. Sarung ini dipakai pada saat acara keluarga dan acara adat baik yang resmi maupun tidak resmi.

b. Lawo Soke Mata Lo'o
Jenis motif    : sarung perempuan
Jumlah motif    :  vertikal 7 motif, Horisontal 2x4 motif
Jumlah lembar    :    3 lembar terdiri dari 2 Singi dan 1 One
Lokasi pembuatan    : Desa Manulondo –, Kel. Onelako Kec. Ndona

Lawo Soke Mata Lo'o

Motif Lawo Soke Mata Loo dibuat berdasarkan meniru daun sukun yang berdiri tempel pada lawo dan kata Soke artinya menancap dan Loo artinya kecil. Jadi Lawo Soke Mata Loo artinya motif daun sukun yang kecil yang dimunculkan pada sarung/lawo. Sarung ini dipakai pada saat acara keluarga dan acara lainnya adat baik yang resmi maupun tidak resmi.

5. Lawo Nepa Mite
Jenis motif    : sarung perempuan
Jenis lawo    : Nepa mite dan Nepa Te’a
Jumlah motif    : vertikal 1 motif utama, 4 motif ½ motif utama, Horisontal 2x4 motif
Jumlah lembar    : 3 (tiga) lembar, motif utama terletak di bagian Singi atau dibagian kaki bila dipakai
Ukuran    : 200 cm x 150 cm
Lokasi pembuatan  : di pesisir pantai selatan dari daerah Lio Kab. Ende

Lawo Nepa Mite
Pada jaman dahulu sudah terjadi pertukaran budaya antara kerajaan-kerajaan di dunia dengan para petinggi Flores khususnya di Ende Lio. Tidak heran bila Ende Lio memiliki motif Nepal. Dinamakan lawo Nepa Mite karena motifnya berasal dari Nepal dan warna motifnya hitam putih atau hitam nilam (nggili).

Lawo Nepa Mite dengan Lambu Mite Mina biasa dipakai oleh ibu-ibu Mosalaki saat upacara adat dan ritual lainnya. Dan sarung jenis ini jarang dipakai oleh para gadis, kecuali Lawo Nepa Te’a atau motif utamanya diberi warna warna kembo atau bahan benang kuning.

6. Lawo Nepa Te’a
Jenis motif    : sarung perempuan
Jenis lawo    : Nepa Te’a dan Nepa mite
Jumlah motif    : vertikal 1 motif utama, 4 motif ½ motif utama, Horisontal 2x4 motif
Jumlah lembar    : 3 (tiga) lembar, motif utama terletak di bagian Singi
atau dibagian kaki bila dipakai

Ukuran    : 200 cm x 160 cm
Lokasi pembuatan  : di pesisir pantai selatan desa Wolo Topo Kec. Ndona hingga Watu Neso Kecamatan Lio Timor Kabupaten Ende

Lawo Nepa Te'a
Lawo Nepa Te’a merupakan pengembangan dari Lawo Nepa Mite karena seluruh motif semuanya sama. Perbedaannya hanya pada motif utama yang diberi warna kembo atau bahan dasarnya benang berwarna kuning.

Lawo Nepa Te’a artinya lawo nepa berwarna kuning. Sarung ini biasa dipakai oleh kaum perempuan baik ibu-ibu maupun gadis-gadis pada acara apa saja.

7. Senai
Jenis motif    : selendang laki-laki (untuk menari)
Jumlah motif    : vertikal 2 mata kopo dan 1 mata one, Horisontal 2x6 motif
Jumlah lembar    : 1 (satu) lembar, terdiri dari Singi dan One
Ukuran    : 200 cm x 50 cm

Lokasi pembuatan  : Desa Manulondo –, Kel. Onelako Kec. Ndona
di pesisir pantai selatan dari kecamatan Nangapanda Hingga kecamatan Lio Timur Kabupaten Ende.

senai
Hampir semua ibu-ibu pengrajin dapat membuat selendang Luka atau Senai, tetapi motifnya berbeda-beda sesuai daerah masing-masing. Gambar dibawah ini merupakan contoh Senai atau Luka Mata Kopo dari desa Nggela Kec. Wolojita.
Daerah kecamatan Nangapanda – kecamatan Ndona – kota Ende dan sekitarnya menamakan Senai karena terdiri dari satu lembar. Sedangkan di daerah Lio menyebutnya Luka karena dipakai oleh kaum pria. Warna dasarnya adalah hitam dari nila.
Selendang ini biasa dipakai saat Wanda Pa’u (tarian massa) dan tarian khas daerah Ende Lio pada acara-acara resmi. Sarung Luka bagi di daerah kota dan sekitarnya adalah sarung laki-laki atau Luka Mite. Sedangkan Luka Mite bagi daerah Lio adalah Ragi Mite.
8.Lawo manu
Jenis motif    : sarung perempuan
Bentuk Lawo Soke  : Soke mata ria atau mata karara Soke bele kele
Jumlah motif    : vertikal 7 motif, Horisontal 2x6 motif
Jumlah lembar    : 3 lembar terdiri dari 1 one dan 2 singi
Lokasi pembuatan  : desa Nggela dan Wolojita, Kecamatan Wolo jita

Lawo Manu
Motif Lawo Manu dibuat berdasarkan meniru seekor binatang Ayam. Yang berdiri tempel pada Lawo dan kata Manu yang artinya Ayam.
Adapun motif ini diantara motifnya disisipkan dengan motif tambahan yaitu mata gami lima dan gami telu, yang bentuknya seperti sayap ayam, jenis ini orang menamakan Lawo Manu. Sarung ini biasanya dijadikan sarung atau Lawo pengantin perempuan disekitar lokasi pembuatannya.

9. Mata rote
Jenis motif    : sarung perempuan
Jumlah motif    : vertikal 1 motif utama dan 4 motif ½ utama, Horisontal 2x4 motif
Jumlah lembar    : 3 lembar, motif utama terletak dibagian singi atau dibagian kaki bila dipakai Lokasi pembuatan  : pesisir pantai selatan dari desa Wolotopo, Kec. Ndona Hingga kota Ende dan sekitarnya
.

Lawo Mata Rote

Lawo Mata Rote merupakan pengembangan dari Gami Tere Esa karena seluruh motif semuanya sama. Perkembangan hanya pada motif utama karena diberi dengan warna kembo atau bahan dasarnya benang berwarna kuning. Lawo Mata Rote artinya motif yang kecil berwarna putih kuning. Sarung ini biasa dipakai oleh semua kalangan baik para ibu maupun para gadis untuk acara adat dan acara lainnya.

10.Lawo Mberhe Arhe/Bele kale

Jenis motif    : sarung perempuan
Jumlah motif    : vertikal 2 mata pada singi dan 1 mata pada one
Jumlah lembar    : 1 lembar, terdiri dari singi dan one

Lokasi pembuatan  : pesisir pantai selatan dari kecamatan Nangapanda, Ende dan Ende selatan.

Mberhe Arhe Bele lawo kale

Bele Kale artinya sayap lalat. Sarung ini hampir dapat dibuat oleh semua pengrajin tenun ikat, hanya motifnya berbeda-beda sesuai dengan daerah masing-masing. Sarung ini dipakai pada saat upacara adat atau acara keagamaan baik resmi maupun tidak resmi.

11. Lawo Mata Anggo

Jenis motif    : sarung perempuan
Jumlah motif    : vertikal 3 motif, Horisontal 5 motif
Jumlah lembar    : 3 (tiga) lembar yaitu dari 1 One dan 2 Singi
Ukuran    : 200 cm x 140 cm
Motif utama    : motif mata anggo
Lokasi pembuatan  : desa Jopu – Kec.Wolowaru – kota Ende dan sekitarnyaLawo Mata Anggo

Motif lawo Mata Anggo sebenarnya diambil atau meniru motif batik dan bagi masyarakat Ende Lio dinamakan Kae Anggo. Adapula gabungan motif batik dengan motif dasar tradisional seperti Seke Bele Kale atau Soke Mata Lo’o dengan 5 (lima) gami. Sarung ini sebenarnya gabungan dari motif batik dan motif tenun ikat tradisional kabupaten Ende dan masih dianggap baru. Warna dasarnya adalah hitam dari nila. Sarung ini dipakai pada saat acara keluarga dan acara lainnya baik yang resmi maupun tidak resmi.

12. Lawo One Mesa

Jenis motif    : sarung perempuan
Jumlah motif    : vertikal 18 motif, Horisontal 2x6 motif
Jumlah lembar    :    3 (tiga) lembar dengan motif yang sama
Ukuran    :    200 cm x 160 cm
Lokasi pembuatan  : desa Manulondo – kec. Ndona –Kab. Ende

Lawo One Mesa
Lawo One Mesa atau Lawo Mboko Wea atau Lawo Sue, karena yang membuat motif ini pertama kali adalah Ibu Theresia Sue (almr) asal Ndona, yang adalah generasi sebelum Indonesia merdeka. Sarung ini berbentuk Mata Kopo dan bagian tengahnya diisi dengan motif Mboko Wea atau motif sesuai dengan posisi motifnya saling berhubungan dengan setiap lembar. Dikatakan Lawo One Mesa karena ketiga lembar dengan motif yang sama dan jenis sarung ini memang agak rumit dibuat. Warna dasarnya adalah hitam dari nila. Sarung ini biasa digunakan sebagai sarung pengantin perempuan. Sarung ini tergolong langka karena yang membuatnya masih bersifat turun temurun. Jenis lawo ini sekarang berkembang menjadi bermacam jenis motif tetapi polanya tetap sama dengan aslinya dan kini telah menjadi motif dasar lembaran.

13. Lawo Pea Kanga

Jenis motif    : sarung perempuan

Jumlah motif    : vertikal 18 motif, Horisontal 2x13 motif Jumlah lembar    :    3 (tiga) terdiri dari 1 (satu) One dan 2 (dua) Singi - Ukuran    :    200 cm x 160 cm
Bagian dari Semba : Upu – Lere – Bharaka lombo – Singi – One
Lokasi pembuatan : Kecamatan Nangapenda – Kecamatan Ndona,Kota Ende dan sekitarnya – Kabupaten Ende


Lawo Pea Kanga
Lawo Pea terdiri dari 2 (dua) jenis yaitu Pea biasa dan Pea Kanga (seperti terlihat pada gambar) karena terdapat penambahan motif kanga atau jari pada bagian tengah motif. Ada yang mengatakan bahwa nama sarung ini diambil dari nama si pembuat pertama motif sarung ini yaitu Ine Pea. Ada pula yang mengatakan Pea adalah Pi’a atau dipotong pada motif Lawo Pea sehingga arti dari nama sarung tersebut adalah dipotong. Warna dasarnya adalah hitam dari nila. Sarung ini dipakai pada saat acara keluarga atau acara keagamaan dan juga untuk Wai Laki atau memberikan kepada saudara pada acara adat.
Yang sangat diperhatikan adalah sarung ini tidak boleh dipakai oleh para gadis karena dipercaya gadis-gadis sulit mendapatkan jodoh. Hal ini karena sesuai dengan arti sarung yaitu jodohnya selalu dipotong oleh orang lain.

14. Lawo Jara
Jenis motif    : sarung perempuan
Bentuk motif    : motif Jara (kuda) dan mata Saliwu
Jumlah motif    : vertikal 18 motif, Horisontal 2x13 motif
Jumlah lembar    : 3 (tiga) terdiri dari 1 (satu) One dan 2 (dua) Singi
Ukuran    : 200 cm x 160 cm
Bagian dari Semba  : Upu – Lere – Bharaka lombo – Singi – One
Lokasi pembuatan : desa Manu Londo – Kel. Onelako - Kota Ende dan sekitarnya – Kab. Ende Ende


Lawo Jara
Nama sarung ini sesuai dengan dengan bentuk motifnya yaitu jara atau kuda dan untuk menambah motif diantara kuda yaitu ditambahkan motif mata saliwu. Warna dasarnya adalah hitam dari nila. Motif jara sebenarnya bagian dari motif lawo jara nggaja hanya jumlah gaminya agak berbeda. Sarung ini digunakan oleh kaum wanita pada saat acara keluarga dan acara keagamaan dan cara memakainya harus sesuai dengan motif kuda berdiri sehingga tidak terbalik.

15. Lawo gami tera esa
Jenis motif    : sarung perempuan
Jumlah motif    : vertikal 18 motif
Jumlah lembar    :    3 (tiga) hingga 4 (empat) lembar
Ukuran    :    200 cm x 160 cm
Lokasi pembuatan : Desa Wolopau – Nggela – Kecamatan Wolojita Tenda – Jopu – Kecamatan Wolowaru

Nama sarung ini disesuaikan dengan pembuatannya yaitu setiap motif mempunyai 9 (sembilan) gami atau sembilan ikatan benang, sehingga orang menamakannya Lawo Gami Tera Esa. Warna dasarnya adalah hitam dari nila. Dari setiap jenis lawo, sarung inilah yang sangat sederhana cara membuatnya dan tidak serumit sarung jenis lainnya.

Lawo Gami Tera Esa

Sebenarnya motif sarung ini diambil dari bagian motif lawo kelimara dan sarung ini sangat digemari oleh para gadi kabupaten Ende dan sekitarnya. Sarung ini dipakai pada saat mana saja terutama para gadis menggunakan sarung ini sebagai pakaian tarian massa, karena mudah diperoleh bila dibutuhkan.

16. Lawo Mata sinde
Jenis motif    : sarung perempuan
Bentuk motif    : motif mata sinde dan lawo Kelimara
Jumlah motif    : vertikal 4 motif mata sinde, 1 motif kelimara dan 5 motif lainnya,
Horisontal 2x6 motif + bharaka
Ukuran    : 200 cm x 160 cm
Jumlah lembar    : 3 (tiga) lembar
Lokasi pembuatan  : desa Ngaluroga Kec. Ndona dan Kecamatan Wolojita


Lawo Mata Sinde
Motif sarung ini sebenarnya meniru motif dari salah satu jenis selendang sinde ukurannya paling kecil untuk digunakan sebagai ikat pinggang atau kepala laki-laki. Jenis selendang sinde sekarang ini hampir punah karena jarang sekali orang membuatnya. Warna dasarnya adalah hitam dari nila. Motif mata sinde terdapat pada bagian lembaran one atau tengah sedangkan pada bagian bawah kaki bila dipakai motifnya hampir sama dengan motif dari lawo kelimara.
Untuk mendampingi motif mata sinde, ada 2(dua) motif dari lawo nepa te’a metu serta motif lainnya dari bagian sarung.
Jenis sarung ini biasanya digunakan oleh ibu-ibu maupun para gadis pada upacara adat maupun upacara agama.

17. Lawo Keli Mara

Jenis motif    : sarung perempuan
Bentuk motif    : Gunung, Teo Timbu, Gami tera es
Jumlah motif    : vertikal 2 motif utama an Teo timbu dan 12 motif gami tera esa
Horisontal 2x motif utama
Jumlah lembar    : 3 (tiga) hingga 4 (empat) lembar
Ukuran    : 200 cm x 160 cm
Lokasi pembuatan : Nggela – Wolo pau - Wolo jita – Tenda – Jopu – Mbuli – Jopu Kecamatan Wolojita dan Kecamatan Wolowaru


Lawo Kelimara
Kelimara adalah lawo/sarung yang bermotif gunung, yang memberi kehidupan kepada umat manusia atas cinta kasih yang Maha Penyayang. Warna dasarnya adalah hitam dari nila. Nama sarung ini disesuaikan dengan bentuk motifnya yang terdapat pada sarung tersebut. Keunikan dari sarung ini yaitu motif utamanya terletak pada sisi sarung atau lembaran luar dari bagian sarung atau pada bagian kaki bila dipakai. Sedangkan pada bagian lembaran yang lain motifnya berbentuk Gami tera esa bila bagian atas tidak dipakai motif utama.
Sarung ini digunakan sebagai sarung pengantin perempuan dan juga digunakan oleh ibu-ibu mosalaki pada saat upacara adat.
Lawo Kelimara terdiri atas 2 jenis motif yaitu : Motif berbentuk gunung yang menjulang tinggi. Ada juga berbentuk gunung kecil bagian tengah motif dan bagian atasnya berbentuk seperti rumah adat. Lawo Kelimara dengan motif utama terdapat pada kedua sisi lawo dengan 9 (sembilan) motif Gami tera esa serta 2 (dua) motif Teo timbu.

18. Lawo mangga
Jenis motif    : sarung perempuan
Bentuk motif    : Mata Bhuja dan Mata Ndala
Jumlah motif    : vertikal 12 motif, Horisontal 2x4 motif
Jumlah lembar    : 3 (tiga) lembar dengan motif yang sama
Ukuran    : 200 cm x 160 cm
Lokasi pembuatan : Desa Manulondo – desa Lokoboko – kel. Onelako, Kec. Ndona, di pesisir kec. Nangapanda, Ende dan Kota Ende sekitarnya


Lawo Mangga
Warna dasarnya adalah hitam dari nila. Disebut lawo Mangga atau Maga karena bentuk motifnya seperti bambu palang pada pagar. Lawo mangga atau maga yang artinya bambu palang pagar. Sedangkan bentuk motifnya adalah jala ikan (Mata Ndala) dan Bhuja (bagian sirip ekor ikan).
Sarung ini biasa dipakai sebagai pakaian sehari-hari oleh ibu-ibu dan para gadis.

19. LUKA/RAGI

[caption id="attachment_642" align="alignnone" width="300"]BenQ Corporation Luka/Ragi Ende Lio[/caption]

[caption id="attachment_643" align="alignnone" width="287"]BenQ Corporation Luka/Ragi Ende Lio[/caption]

berwarna dasar hitam atau biru kehitaman, mempunyai jalur-jalur yang jelas sepanjang lungsin yang sejalan dengan jalurnya mendatar dan merupakan kain tenun untuk kaum pria.

Demikian beberapa ulasan tentang jenis dan motif tenun ikat ende lio. Mudah-mudahan dan memperkaya khasanah pengetahuan lokal dan semoga tenun ikat ende lio makin mendunia dan dicintai oleh generasinya sendiri.

[caption id="attachment_318" align="aligncenter" width="406"]Motif Ende MACAM TENUN IKAT ENDE LIO[/caption]

 

DIULAS KEMBALI  OLEH: IHSAN.D

 

SUMBER SADURAN DAN  PUSTAKA :

http://mozalora.blogspot.co.id/2013/11/tenun-ikat-ende-lio-flores.html

http://www.goodnewsfromindonesia.org/2015/07/05/mengikat-kebanggaan-negeri-dengan-kain-ikat-flores/

www.kain-tenun-ikat.com/

Jumat, 11 Desember 2015

PANDANGAN SUKU ENDE LIO TERHADAP TANDA-TANDA ALAM; ANTARA MITOS DAN FAKTA

tsunami Maumere 1992

Sejak zaman dahulu, masyarakat masih amat dekat dengan kehidupan dengan alam. Fenomena-fenomena  dari alam yang kadang diwakili oleh satwa mapun tanda-tanda alam lainnya seolah memberitahu bahwa akan terjadi sesuatu dalam kehidupan. Alam adalah sahabat yang dapat  memberitahu kejadian-kejadian yang akan datang saat itu dan bahkan masih berlaku hingga kini pada sebagaian komunitas masyarakat.  Namun ada orang pula yang tidak percaya dan berpandangan bahwa tanda-tanda alam hanyalah sesuatu yang dianggap berkaitan dengan mitos, magis, musyrik bahkan syirik.

Bahasan kali ini adalah sekedar informasi dan pengetahuan bagi pembaca, bahwa ada mitos yang berkembang di kehidupan masyarakat suku ende lio sehari-hari terkait dengan tanda tanda alam. Mungkin bisa dipercayai, bisa juga tidak akan tetapi terbukti rata-rata hal tersebut mengakibatkan kejadian-kejadian yang nyata.

Musibah/bahaya/peruntungan memang datang tak diundang ataupun diberitahu lebih awal. Meski teknologi sudah bisa memprediksi beberapa bencana/musibah tapi tetap tidak ada salahnya membaca tanda-tanda alam. Para ilmuwan berteori bahwa hewan mampu menangkap getaran-getaran atau perubahan tekanan udara di sekitar mereka yang tidak dapat dilakukan manusia.

Dari tanda-tanda alam yang juga diwakilkan oleh satwa maka dalam kebiasaan orang Ende Lio fenomena alam tersebut memiliki makna tersendiri baik untuk satu komunitas, keluarga bahkan pereorangan. Berikut beberapa tanda alam pada masyarakat Ende Lio yang dapat dikumpulkan dari beberapa literatur maupun dari penuturan-penuturan orang tua yang mudah-mudahan dapat menjadi referensi bagi pembaca lebih khususnya kepada generasi Ende Lio.

TANDA-TANDA DARI ALAM

  1. Wula Fowo (Bulan Puranama namun suram) pratanda akan terjadi hujan dan angin yang kencang.

  2. Wula Mogo Dala (Bulan menelan bintang) Pratanda akan ada kematian orang-orang terpandang, pembesar atau orang-orang yang memiliki popularitas tertentu baik masa lalu maupun saat sekarang.



  1. Wula Dala Pawe’e (Bulan dengan bintang berdekatan) Pratanda akan meninggalnya seseorang dalam suatu masyarakat



  1. Dala ligi wula (Bintang mengitari bulan) Bintang mengitari bulan, pratanda akan terjadi kematian yang beruntun yang menimpa masyarakat.



  1. Wula Ja/Balu Ji’e ( Bulan Purnama) artinya cuaca baik dan bahagia karena sudah melewati tantangan dan hasil tanaman sudah dapat dipanen. biasanya digelar pesta atau upacara sebagai ungkapan rasa syukur kepada leluhur.

  2. Leja Sigha Ri (Matahari menapak tinggi sekitar pukul 08.30) Artinya Dilarang untuk bepergian sendiri ke kebun/kali pada waktu-waktu tersebut karena diyakini makhluk halus sedang menunggu.


TANDA-TANDA ALAM DARI SATWA

  1. Manu Kako (Ayam berkokok); Ayam berkokok sebelum waktunya pada malam hari: pratanda akan ada masalah/konflik/perkara/kehamilan diluar pernikahan atau juga akan ada kematian yang akan menimpa warga setempat. Biasanya bisa diduga kelompok warga mana dari posisi ayam berkokok. Bila dekat rumah seseorang maka sangat besar kemungkinan anggota dalam rumah akan terlibat dalam masalah atau juga akan ada yang meninggal.

  2. Lako Moa (Anjing melolong) Anjing melolong pada malam hari  dan bersahut-sahutan: pratanda akan ada orang yang meninggal. Posisi anjing melolong itu sendiri pun menentukan kemungkinan akan ada warga yang meninggal atau bertalian hubungan dengan pihak warga yang berada sekitar posisi anjing melolong. Apalagi jika anjing melolong di tengah malam nan sunyi dan juga pada siang hari yang sepi.

  3. Lako Polu (Anjing menggonggong). Anjing menggonggong merupakan  hal yang biasa. Namun akan bermakna lain jika di saat-saat tertentu seperti tiba-tiba saja anjing menggonggong ke arah tertentu padahal secara kasat mata tak ada faktor yang mempengaruhinya. Jika demikian maka ada pratanda bahwa anjing telah melihat obyek tertentu yang sedang berniat buruk terhadap seseorang/keluarga atau sesuatu. Orang tersebut datang dalam kekuatan magicnya.

  4. Wawi besa/seru (Babi berbusa) di kandang atau sekitar rumah (Wawi besa/seru): pra tanda ada kehadiran magic atau roh halus yang berniat mengganggu babi tersebut atau menggangu tuan rumah pemelihara babi.

  5. Koa/Poi seru (Belalang bersuara), Belalang bersuara pada malam hari pratanda salah seorang dalam keluarga atau juga kelurga yang bersangkutan sedang diperbincangkan orang lain.

  6. Poi Meta Maso Sa’o (Belalang Hijau masuk rumah) Artinya arwah nenek moyang/keluarga yang meninggal datang dirumah atau aka nada rejeki bagi penghuni rumah.

  7. Ule A Seru (Burung Gagak bersuara (seru ule a). Burung gagak bersuara disaat tertentu secara mendadak akan membawa kabar buruk berupa kematian bagi warga setempat. Kematian itu entahkah warga setempat atau juga orang lain tetapi mayatnya mungkin sempat melintasi kawasan tersebut.

  8. Po seru (Burung Hantu bersuara)   pada malam hari: pratanda akan ada masalah/konflik atau juga akan ada kematian. Pratandanya seperti ayam berkokok.

  9. Ule ae uja (Burung Hujan). Burung ini biasanya muncul dipuncak musim panas dan selalu berkeliaran di sepanjang sungai atau kali. Jika ekor burung ini ketika melintasi sungai/kali menyentuh air itu berarti memberi tanda musim hujan akan segera tiba. Karena itu para petani harus selekasnya menyiapkan lahan untuk menanam.

  10. Iso Noi (Burung Rajawali bersuara di tengah malam (Iso noi): pratanda akan ada kematian orang-orang yang terpandang, popularitas tertentu di kawasan itu. Pratandanya seperti bulan menelan bintang.

  11. Sesesie seru (Burung Srigunting bersuara), Burung Srigunting bersuara di dekat rumah namun hanya sekali: pratanda akan ada tamu yang datang pada hari itu. Umumnya tamu dari jauh yang telah merencanakan kunjungannya.

  12. Sesesie seru ba’i (Burung Srigunting bersuara terus-menerus seperti orang meratap) pratanda akan ada kematian salah satu warga dalam waktu dekat.

  13. Ana geru seru (Cecak bersuara)  Cecak bersuara dalam rumah pada malam hari: pratanda ada kebenaran terhadap sesuatu/hal tertentu yang sedang diperbincangkan secara serius.

  14. Eo seru gio/ eo ngembo (Suara kucing yang meraung) pratanda akan ada kematian. Pratandanya sama dengan anjing melolong, ayam berkokok

  15. Teu Rapa tẻndu ; Tikus berkejaran sambil menjerit dalam rumah pada malam hari: pratanda akan ada kematian warga dalam rumah atau keluarga dekat dari warga dalam rumah.

  16. Nipa mapa jala (Ular palang jalan) pratanda perjalanan menuju tujuan akan terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan. Bagi sebagian orang ketika sedang berjalan dan bertemu dengan ular yang memalang di jalan pratanda leluhur sedang mengikuti yang bersangkutan.



  1. Niki Lela Boko (Kelelawar terbang rendah) Kelelawar adalah jenis hewan yang tidak suka hujan. Mereka memiliki bulu yang basah dan berat. Jika akan turun hujan, mereka akan tau dan terbang lebih rendah mencari tempat berlindung.

  2. Ola Bene Maso Nua (Binatang-binatang dihutan masuk kampung) Binatang-binatang dihutan seperti monyet, ular, dan lain-lain yang berlarian kekampung artinya akan ada bencana banjir ataupun gempa/tanah longsor.

  3. Ana koka sedho (Burung kuau kerdil) bersuara dengan sendat-sendat dimalam hari Artinya akan terjadi kematian.

  4. Manu Penabu (Ayam bertarung) ayam bertarung didepan rumah artinya akan ada tamu yang datang.


TANDA-TANDA DARI ALAM DARI BAU KHAS TUMBUHAN, BINATANG, 

  • Wau seku noo kali raga (Bau kencur dan genoa pada siang/malam hari (Wau seku noo kali raga): pratanda roh halus sedang menghampiri seseorang yang mencium bau tersebut. Roh halus yang dimaksud seperti Laihoa atau Ule ree/ata saga boko.

  • Wau rongo (Bau Kambing dimalam hari Artinya akan ada keluarga dekat yang meninggal)

  • Wau Bita (bau lumpur) Bau lumpur yang tajam artinya akan ada bencana banjir.

  • Wau Ata Mata (Bau bangkai mayat) artinya akan ada orang yang meninggal ataupun ada orang yang sudah meninggal namun tidak diketahui lokasinya.


Demikian beberapa tanda-tanda alam yang dapat dipaparkan semoga bermanfaat dan bagi pembaca khsusnya dari Ende Lio yang juga memiliki pengetahuan berkaitan dengan tanda-tanda alam dapat menambhkannya agar dapat menjadi referensi bersama.

Oleh: IHSAN D.

Sumber Pustaka

  • animasisoetts.blogspot.com

  • http://www.ahmadzain.com/read/ilmu/334/ilmu-perbintangan-dan-ramalan-cuaca/


Sumber Gambar

islamumin.blogspot.com

Selasa, 08 Desember 2015

DARI NDONA UNTUK NUSANTARA (1 ABAD PAROKI NDONA)

[caption id="attachment_6" align="alignnone" width="873"]Kerukunan Umat di Ndona Acara Penjemputan Salib OMK tahun 2012[/caption]

Hari ini (Selasa, 8/12/2015) merupakan puncak ulang tahun 1 abad Paroki Ndona. Berbagai acara dilewati sebagai rangkaian dalam perayaan 1 abad. Salah satunya acara Seminar Nasional yang menghadirkan Dr. Yudi Latif, Dr. Jhon Dami Mukese dan Dr. Domi Nong sebagai satu pembicara dengan tema Gereja, Soekarno dan Pancasila yang digelar di aula H.j Gadi Djou Universitas Flores (senin, 7/12/2015). Salah satu Sub Tema dalam seminar Nasional tersebut adalah Toleransi Umat Beragama, Dari Ndona Untuk Nusantara dengan keynot speakernya Dr. Domi Nong Pr dan dimoderator oleh Romo Piperno.

Menyimak ulasan dalam seminar tersebut meskipun belum mengcover ciri khas dari Ndona yang majemuk namun muncul suatu pertanyaan Ada apa dengan Ndona? Kenapa Ndona di pilih sebagai Istana Keuskupan Agung Ende oleh Pater P. Noyen pada tahun 1913? Bagaimana Pusat Misi dapat beridiri di Ndona dan Bagaimana dengan kehidupan masyarakakatnya yang majemuk dan kenapa harus dibicarakan dalam moment tersebut.

Pertanyaan dan diskusi tersebut harusnya mengemuka dalam seminar dalam rangka 1 abad paroki Ndona yang juga 1 abad beridirinya Keuskupan Agung Ende. Karena jika berbicara tentang perkembangan agama (khususnya Katolik) di Ende maka tidak dapat terlepas dari Ndona sebagai bagian dari bangunan sejarah.

Nama daerah Ndona sendiri dari sisi asal muasalnya hingga saat ini masih merupakan sebuah misteri yang belum terpecahkan. Namun dibalik misteri nama Ndona terdapat suatu kekayaan dalam kehidupan yang berbeda dengan daerah lain termasuk di wilayah Kabupaten Ende sendiri. Bukan mau menunjukan sisi primordialis tapi dalam moment ini perlu mengangkat sesuatu yang menjadi sisi lain dari kehidupan masyarakat Ndona.

[caption id="attachment_14" align="alignnone" width="2000"]MALAM PENUTUP TAHUN ACARA MALAM PENUTUP TAHUN DI SALAH SATU WILAYAH DI NDONA[/caption]

Kenapa ata Ndona begitu akur dalam kehidupannya? Secara history jauh sebelum agama-agama resmi (Islam/Katolik) hadir di Ndona, orang Ndona sebagai salah satu etnis Lio sudah memiliki kepercayaan akan wujud tertinggi sebagai sesuatu hal yang ghaib yang tidak dapat dilihat, diraba maupun didengar yang dikenal dengan istilah Du’a Ngga’e. Sebagai wujud tertinggi, Du’a Ngga’e itu dipercayai oleh masyarakat Ndona telah ada sebelum segala sesuatu di bumi ini ada. Du’a hadir sebagai yang sulung, yang paling awal hadir dari segalanya termasuk manusia. Du’a Ngga’e bahkan telah ada sebelum alam raya ini tercipta. Kata Du’a selalu berarti, ‘sulung’, ‘terdahulu’, ‘tertua’. ‘berdaulat’, ‘berpribadi tertinggi’, sedangkan konsep Ngga’e mengandung makna ‘keagungan’, penuh dengan daya, kebijaksanaan, kekuatan, kekayaan. Ungkapan tentang keagungan dan kebesaran Du’a Ngga’e tersirat pada “Du’a gheta lulu wula, Ngga’e ghale wena tana, Du’a Gheta Liru Bara, Nggae Ghale Wena Tana Bewa, yang secara harafiah diartikan Du’a yang berkuasa di atas bulan dan langit, dan Ngga’e yang menguasai dasar bumi yang paling dalam. Namun kedua kata tersebut bukan mengandung dua Tuhan akan tetapi mengapresiasikan bahwa Du’a Ngga’e adalah penguasa langit dan bumi, penguasa jagat raya termasuk seluruh isinya.

Du’a Ngga’e adalah asal segala makhluk yang lain. Dia yang telah menciptakan segala yang ada dan karena itu ia berkuasa atas semua makhuk ciptaanya itu. Ia lebih tinggi dari segala kuasa dan segala kekuatan yang ada, sehingga dari pola pandangan yang sama ini diwariskan secara turun temurun hingga hadirnya agama-agama besar seperti Islam dan Katolik.

[caption id="attachment_7" align="alignnone" width="1000"]PAWAI TAKBIRAN IDUL FITRIH DI NDONA TAKBIRAN IDUL FITRIH DI NDONA 2012[/caption]

Di sisi lain terdapat sebuah pandangan yang sama bahwa orang ndona pada umumnya  selalu menjunjung dan mensakralkan turajaji, sua sasa, nggua tana watu, rasa yang sama sebagai satu turunan dalam konsep kekerabatan dengan ungkapan  ” Kunu Woe eo nge wa’u setuka, se ra, dengan pola hidup dan status sebagai Eja kera, aji-ka’e, weta-nara, ine ame, ipa-imu, eda wuru,  tuka bela, imu riu yang dikemas dalam budaya wurumana. Dengan pandangan yang demikian masyarakat Ndona tetap menjunjung tinggi nilai-nilai kekeluargaan dan kebersamaan yang dimanfestasi dalam sikap sehari-hari dan budaya wuru mana pada masyarakat. Sehingga perbedaan keyakinan dalam agama sebagai hal prinsipil  dan pilihan masing-masing masyarakat.

Dalam pola hidup masyarakatnya yang dikatakan berbeda dengan sub etnis lainnya adalah pola pemukiman masyarakat yang berbeda keyakinan. Jika diwilayah lain dibagian pantai tentunya masyarakat beragama Islam dan  daerah yang agak ke dalam yaitu masyarakat yang berkayakinan katolik. Namun di Ndona pola pemukiman masyarakatnya membaur antara keyakinan yang satu dengan keyakinan yang lainnya. Bahkan dalam satu rumah terdapat masyarakat yang berbeda keyakinan. Inilah yang membedakan Ndona dengan masyarakat daerah lainnya.

Jika digali dari sisi sejarah, berdirinya Paroki dan Istana Keuskupan Ndona tidak terlepas dari peran umat beragama Islam. Menurut riwayat Saat itu P Noyen memilih tempat di Radawuwu-Ndona sebagai pusat Misi. Untuk memuluskan niatnya, Dia berkoordinasi dengan Raja Ndona, Raja Bhaki Bani yang saat itu sudah beragama Islam. Raja Bhaki Bani mendekati Pemilik lahan yaitu dari Sa’o Ria Ata Bhula yang juga sudah beragam Islam. Demi pengembangan akhlak umat yang waktu itu sebagiannya masih berkayikan lokal maka direstui lahan tersebut untuk berdirinya pusat misi. Pemberiannya disaksikan oleh Mosalaki dengan ungkapan “ Pati iwa do lai, Ti’I Iwa Do Wiki” (Memberi tidak untuk diambil kembali) namun dalam urusan adat (Kolu Koe) tetap pada ata bhula. Sehingga pada urusan pembangunan di Misi Ndona Ata Bhula  selalu hadir dan menyaksikan kegiatan pembangunan yang terjadi di Misi Ndona.

Dalam kesaksian para tetua di Ndona urusan pembangunan Gereja Lama dan Istana Keuskupan saat itu, dua umat bahu membahu hingga bangunannya rampung. Misi-pun membuka sekolah dan umat Islam Ndona juga diperkenankan bersekolah pada sekolah yang dibangun pertama kali di Ende dan hal tersebut berlanjut hingga saat ini.

Dengan pola hidup masyarakat Ndona yang masih dalam satu sistem kekerabatan yang kuat dan hubungan kawin mawin adalah modal kehidupan (social capital)  yang terwariskan sejak dahulu kala jauh sebelum masyarakat Ndona mengenal istilah Toleransi, kerukunan ataupun slogan-slogan yang berbau tentang kerukunan. Kerukunan  yang tergambarkan  bukan hanya saat Natal dan Idul Fitrih ataupun baru muncul ketika pemerintah membuat kebijakan-kebijakan dalam penataan kehidupan beragama tetapi kebersamaan masyarakat Ndona sudah terjadi sejak dahulu kala dan secara dinamis berlaku setiap hari dengan kebiasaan “rapa pati, rapa ono” (Saling memberi, saling menerima).

Jika dikaitkan dengan tema seminar “Gereja, Soekarno dan Pancasila” Secara history, tidak ada bukti tertulis maupun gambar yang memvisualisasikan tentang kehadiran Soekarno di Ndona lebih khsusus di Vicaris Apostilik (Keuskupan) Ndona saat itu. Namun dari penuturan warga setempat Soekarno sering datang di Ndona dan berinteraksi dengan warga Ndona. Bahkan dari keuskupan Ndona membantu peralatan dan Cat Berwarna untuk pementasan tonel saat itu. Meksipun dalam tulisan-tulisan sejarah tentang Soekarno selama di Ende tidak tercantum kedatangan Soekarno di Ndona, namun dari beberapa penuturan para orang tua dan nenek moyang di Ndona mengatakan bahwa Soekarno pernah berinteraksi dengan masyarakat dan terdapat salah satu tempat pada alam terbuka yang digunakan oleh Soekarno untuk shalat dan meditasi yaitu di tempat pemandian para misionaris bernama Kali Ae Tua.

Secara kekinian pola interaksi dan kebersamaan masyarakat Ndona tetap terjaga dan dapat dikatakan belumlah luntur. Ketika pembangunan Gereja Baru Ndona dan pembangunan beberapa masjid kedua umat tetap bahu-membahu baik dari sisi tenaga, bahan dan biaya yang ditujukan untuk pembangunan rumah ibadah. Inilah yang menjadi kekhasan dalam keterlibatan kedua umat yang berbeda keyakinan tidak hanya dari sisi tenaga namun sumbangan material dana dana menjadi wujud nyata budaya gotong royong dan rasa saling memiliki antar sesama umat manusia bahwa rumah ibadah itu juga milik semua orang. Ini menjadi nilai-nilai kearifan lokal (lokal wisdom) yang tumbuh dan bertahan seiring perubahan zaman.

Fakta inilah bahwa kerukunan umat beragama di Ndona dapat dijadikan ikon bagi orang Ende contoh dan corong bagi Negeri yang bernama Nusantara. Sehingga tidaklah mengherankan jika Soekarno menolak Khilafah di Negeri ini karena belajar dari Ende termasuk di Ndona dan karena Ende-lah Negeri Ini memiliki Dasar Negara yaitu Pancasila. Sehingga Banggalah Kita Menjadi Orang Ndona/ Orang Ende.

OLEH : IHSAN D.

Sabtu, 05 Desember 2015

ADA APA DIBALIK TARIAN GAWI???

LOMBA GAWI 1 ABAD PAROKI NDONA STASI NDONA

Pada perhelatan akbar dalam usia emas 1 abad Paroki Ndona,  salah satu rangkaian acaranya yaitu lomba gawi yang melibatkan stasi-stasi yang berada di paroki Ndona. Acara lomba gawi yang disaksikan oleh ribuan masyarakat Ndona dan Ende, Pimpinan DPRD Ende dan tamu undangan dari luar pulau memukau para  penonton. Menyaksikan gerakan kaki para peserta gawi yang secara serentak menghentak bumi menandakan tarian gawi memiliki arti yang dalam bagi orang Ende Lio. Dia bukan sekedar suatu tarian tanpa makna ataupun gerakan yang tak berirama namun gawi memiliki pesan yang dalam bagi setiap orang yang berada di dalam maupun diluar lingkaran gawi.

Tari gawi adalah jenis tarian yang sudah ada sejak zaman para leluhur terdahulu. Tari Ini biasanya dipentaskan dalam  upacara – upacara , pengankatan kepala suku  (Wake Ria Renggi Beba), pembangunan rumah adat, mengmpulkan hasil panen dalam lumbung padi, dll.Filosofi tari gawi yaitu sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena telah memberikan berkat dan rahmat kepada masyarakat Ende Lio dan masyarakat umum tentang  panen yang melimpah, harmoni alam, kehidupan yang baik dan kerukunan antar sesame.

Gawi dalam bahasa Indonesia dapat disebut juga dengan kata, 'TANDAK. Tarian Gawi adalah satu - satunya tarian khas masyarakat Lio yang tertua dan dipimpin oleh seorang penyair yang ditunjuk para sesepuh adat. Dalam bahasa adat Lio penyair ini dapat disebut 'ATA SODHA'. Uniknya, untuk menjadi seorang penyair, seseorang harus mendapatkan Ilham secara khusus karena penyair (Ata Sodha) tidak boleh membaca teks atau catatan pada saat upacara gawi sedang berlangsung. Ini berarti penyair tersebut harus benar - benar menguasai alur - alur bahasa adat ketika di nyanyikan dalam sebuah aliran lagu adat yang dikenal dengan 'SODHA'. Dalam Beberapa ritual adat tarian gawi ini kerap diisi dengan 'BHEA' oleh para sesepuh atau dalam hal ini Mosalaki sebagai pemegang tampuk kuasa tertinggi didalam masing - masing wilayah persekutuan Lio. BHEA, kalau diterjemahkan dalam bahasa Indonesia berarti; Sebuah ungkapan bahasa adat Lio yang bersifat seruan untuk membangkitkan spirit sebagai tanda untuk menunjukan kebesaran, keperkasaan dan kemenangan.

Secara harafia jika didefinisikan Arti kata “Gawi” sebagai berikut; “Ga” Segan/sungkan. Sedangkan “Wi” artinya menarik, dalam arti menyatukan diri. Tarian ini adalah simbol faktual entitas yang merupakan daya pemersatu kalangan antara bangsawan dan kaum jelata etnik Ende Lio di masa lampau. Filosofi tarian ini adalah merayakan ritual kehidupan, baik pemilihan mosalaki, pembangunan rumah adat, masa panen atau momen lainnya dalam kehidupan etnik Ende Lio. Salah satu tujuan dari upacara adat ini adalah ungkapan syukur atas segala nikmat dari Yang Kuasa dan seruan akan rasa kebersamaan, persatuan dan kesatuan .

LOMBA GAWI 1 ABAD PAROKI NDONA

Tarian gawi dilakukan dengan cara berbentuk lingkaran mengelilingi tubu musu dengan berpegangan tangan dan menyentakkan kaki dalam bentuk dua macam ragam yaitu Ngendo dan Rudhu atau ragam mundur dan maju atau maju mundur

Dalam komposisi bentuk gawi ada bagian -bagiannya yaitu :

  • Sodha (Penyair) Ia berada di tengah-tengah ataupun di luar para penari gawi dan dengan bebas mengungkapkan syair-syair pengiring gawi

  • Eko Wawi.

  • Sike – Ana Jara

  • Naku Ae Wanda Pau

  • Ulu

Waktu dan jumlah peserta tari gawi tidak ditentukan dan tarian ini biasa diadakan di Koja Kanga pada acara Nggua / seremonial adat, bagi peserta gawi diwajibkan ikut bernyanyi pada bagian oro

Dari semua tarian adat Lio, Gawi merupakan sebuah tarian yang mempunyai banyak makna filosofis sebagai berikut:

  1. Makna religius : Beberapa syair yang mengagungkan kebesaran Tuhan Yang Maha Kuasa seperti Syair lagu gawi, "Du’a Gheta Lulu Wula,Ngga’e Ghale Wena Tana". Mempunyai makna pemujaan melalui syair-syair untuk menghormatan terhadap wujud Tuhan yang Maha Tinggi Penguasa langit dan bumi.

  2. Makna Persatuan : Koreografi gawi, dalam bentuk lingkaran bulat (berpengangan tangan). Kebersamaan dalam kehidupan masyarakat Lio sangat tergambar jelas melalui ritual gawi ini. Sehingga setiap orang yang terlibat dalam ritual ini harus menyadari betul inti kebersamaan “Ndawi Lima Mawe Rowa Bowa, "To'o Lei Po'o, Mbana Lei Meja".

  3. Makna Kesetaraan jender : Peserta gawi terdiri dari laki-laki dan perempuan. Jika Indonesia mengenal kata emansipasi wanita, sesungguhnya orang Lio sudah mengenal kesetaraan jender melalui ritual gawi maupun dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini terbukti dalam tarian gawi, para perempuan berderet dalam satu barisan dan disambung dengan tangannya kaum adam. Demikian pula disetiap ritual-ritual adat orang Lio, kaum wanita mendapat tempat dengan tugas tersendiri tanpa campur tangan kaum lelaki. Misalnya: Mengatur perbekalan, mengatur hasil-hasil panen, dan juga semua persoalan yang berkaitan dengan rumah adat, karena rumah adat sebagai simbol kelahiran yang datang dari wanita.

  4. Makna Tanggung jawab : Komponen peserta gawi terdiri dari ulu eko, (Pemimpin), tuke ulu eko (Pembantu pemimpin), naku ae (Pendukung/pelaksana). Disini dimaksudkan dalam setiap perkampungan adat Lio, semua para pemimpin adat maupun masyarakat jelata harus tahu tugas dan tanggung jawabnya terhadap "Du'a Gheta Lulu Wula" serta aturan-aturan adat yang berlaku di dalam adat mereka sendiri.

  5. Makna Tatakrama : Sopan santun, saling menghargai, saling menerima. Inilah yang disebut kepemimpinan adat Lio kolektif kolegial. Artinya semua sesepuh maupun fai walu ana kalo harus saling menghargai, tahu tatakrama, dan saling menerima antara satu dengan yang lainnya.

Dalam GAWI, lingkaran penari berbentuk spiral, bukan lingkaran utuh, dan yang lebih unik lagi menyerupai ular.

Tarian Gawi merupakn tarian masal baik kaum laki-laki maupun perempuan. para penari tersebut membuat suatu formasi melingkar dengan mengelilingi Tubu Musu di Koja Kanga. Dalam formasi tersebut para penari laki-laki berada di depan atau bagian dalam, sedangkan penari perempuan di belakang atau bagian luar. Namun ada kalanya penari perempuan membuat formasi setengah lingkaran. Formasi tersebut tentunya memiliki arti tersendiri. Gerakan tarian Gawi cukup sederhana karena saling bepegangan tangan, sehingga gerakannya lebih didominasi gerakan kaki maju, mundur, ke kiri dan ke kanan secara bersamaan. Sedangkan gerakan tangan hanya diayun-ayunkan.

12342750_137254509974408_5111932296326377216_n

Dalam tarian Eko Wawi yang berada dibagian tengah yang memimpin tarian dan berusaha memberi spirit bagi penari gawi masal. Sedaangkan Ulu atau Naku Ae, dia memegang parang dan mengiringi penari dengan gerakan yang agak lembut seperti gerakan perempuan namun parag yang dipegang melambangkan bahwa dia adalah prajurit perang. Dalam pertujukan Tari Gawi biasanya tidak menggunakan musik pengiring, hanya diiringi oleh syair yang dibawakan oleh Ata Sodha. Hal ini karena gawi merupakan tarian yang sakral, sehingga harus dilakukan secara hikmat. Dalam tarian gawi, meskipun lokasi koja kanganya kecil akan tetapi dapat menampung berapapun orang yang ingin mengikuti tarian gawi tersebut.

Dalam ritual Gawi, wanita selalu berada di posisi luar, bukan di lingkaran dalam. Alasannya karena berdasarkan tradisi orang Lio bahwa orang Lio selalu menganggap laki-laki sebagai ('Dari Nia Pase Lae') Generasi penerus yang harus berdiri di garda terdepan sebagai pelindung dan pengayom kaum wanita. Ini penghormatan kaum perempuan kepada kaum laki-laki sebagai sumber kekuatan dan perlindungan, yang diyakini melindungi wanita.

Sebaliknya laki - laki menganggap wanita sebagai sumber kehidupan dan mata air yang harus dilindungi layaknya seekor ular raksasa yang melindungi seluruh rangkaian daratan Flores yang dikenal dengan julukan 'Nusa Nipa'. Oleh karena itu tidaklah mengherankan kalau kata 'Nusa Nipa' berasal dari bahasa Lio yang berarti Pulau Ular. Salah satu bukti pengakuan orang Lio terhadap Nusa Nipa adalah Pada jaman dulu, orang Lio tidak pernah membunuh ular, bahkan terkadang jika bertemu Ular, orang Lio selalu membentangkan kain selendang lalu memberinya makan berupa telur ayam sebagai wujud penghormatan.

Dari semua rentetan ritual adat orang Lio, Gawi/tandak adalah ritual puncak.. Mungkin ini bisa berarti bahwa ritual seperti itu sudah sangat tua sekali usianya, atau bukti bahwa manusia memiliki kecenderungan yang sama dalam menghayati kosmos.

Selain itu Masing - masing suku di Flores memiliki ciri musik dan tangga nada khas. Sebagai contoh, suku Lio memiliki tangga nada berciri tritonus, yaitu berjarak empat nada berjarak satu laras berurut, yang tidak ada duanya dengan di tempat lain. Kalau dibunyikan, akan seperti nada fa-sol-la-si, bukan do-re-mi-fa atau sol-la-si-do sebagaimana lazimnya tangga nada diatonik, atau do-mi-fa-sol seperti pentatonik lazim. Sayangnya, irama asli seperti ini hilang begitu saja oleh irama yang lebih populer, seperti dangdut, reggae,dll, yang dibungkus dengan sekedar bahasa daerah sebagai syair.

12289498_406265942905228_3825526777732865947_n

Mungkin, irama asli hanya bisa didengar jika menikmati Gawi di tempat - tempat seperti Jopu, Moni, Tenda atau Watuneso, Nggela, Ndona . Generasi muda perlu dididik kembali untuk mengerti keaslian tersebut sebagai kekayaan kultural, mungkin dengan memasukkan materi musik daerah sebagai mata pelajaran sekolah, atau menggiatkan sanggar - sanggar musik daerah. Bahkan lagu - lagu 'Gawi' yang kini populer lebih berciri slow-rock ketimbang asli Lio. Ini juga terjadi di daerah - daerah lain. Sepertinya, kita lebih suka menikmati musik asing dengan sekedar membungkusnya lewat syair berbahasa daerah, tapi kehilangan jati-diri musik pribumi. Komponis yang setia menjaga keaslian irama sepertinya tidak ada. Sebagai generasi Flores, anda ditantang untuk menggunakan kembali musik aslinya. Jika tidak, musik khas Flores tidak akan pernah ada. Menurut pandangan seorang Max Weber, yang dikutip dari J. Kunst (1942) mengakui bahwa orang Flores mempunyai ciri khas musik yang sangat unik dari etnis mana pun di seluruh pelosok nusantara. Yang menjadi pertanyaan sekarang; Mengapa orang Flores  dan khususnya Ende Lio sendiri tidak bisa mempertahankan nilai - nilai luhur yang sudah di wariskan ?

DI OLAH DARI SUMBER:

Sumber Foto :

https://www.facebook.com/mario.sari.90?fref=nf

https://www.facebook.com/awetndona.awet?fref=nf

Jumat, 04 Desember 2015

UWI KAJU GA’U; KREASI KULINER KHAS ENDE LIO

UWI KAJU GAU KULINER ENDE LIO 2015

Mengenal kuliner local memang tiada habisnya. Setelah kali lalu penulis memaparkan kuliner local ende lio berupa are jawa, kali ini salah satu panganan local asli ende lio adalah Kreasi dari Ubi Kayu. Bagi masyarakat EndeLio, UwiKaju/UwiAi (UbiKayu/Singkong) merupakan panganan lokal yang menjadi makanan pokok dan sudah ada sejak masa nenek moyang. Salah satunya adalahUwiKaju/Uwi Ai Ga’u. Meskipun sama-sama berbahan dasar ubi namun uwi kaju ga’u belum sepopuler uwi ai ndota atau uwi ai punga.

Ubi kayu atau juga disebut singkong, tentu sudah sangat akrab dalam kehidupan sehari-hari. Secara tradisional, ubi kayu/singkong sangat diminati karena singkong memang mengandung cukup tinggi kalori dan sumber energi yang baik. Dalam perkembangannya, singkong kini telah banyak dimanfaatkan untuk membuat berbagai macam penganan, atau diambil patinya untuk berbagai macam keperluan.

Di daerah Nusa Tenggara Timur pada masa sebelum orde baru makanan pokokya itu adalah jagung dan ubi. Namun dengan perubahan zaman, cara pandang masyarakat terhadap jenis makanan tersebut cenderung kurang bagus. Saat ini, makanan dari umbi-umbian maupun jagung sebatas hanya pelengkap nasi atau makanan selingan. Padahal itu semua juga memiliki kadar karbohidrat yang tinggi dan juga merupakan karbohidrat kompleks yang sangat baik untuk energy tubuh dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Pandangan masyarakat saat ini meskipun sudah makan ubi ataupun jagung, namun itu sama saja dengan belum makan jika belum memakan nasi. Dalam bahasa lokal Ende makan ubi sama dengan “Rete Senge” artinya hanya untuk sekedar mengisi perut.

Pada masyarakat Ende Lio, Uwi Kaju/ Uwi Ai (Singkong) selain dibuat masakan uwi ndota juga dikreasi dan dikemas dalam kuliner lainnya yaitu Uwi Kaju/Uwi Ai Ga’u. Ga’u dalam bahasa setempat artinya aduk. Sehingga masakan tersebut merupakan campuran   ubi yang diaduk-aduk.

Meskipun tidak diketahui asal muasal dan pencetus kuliner yang satu ini, namun kuliner ini akrab dengan masyarakat Ende Lio sebagai selingan dari pola makan sehari-hari .Uwi Kaju Ga’u dikreasi dalam satu olahan   masakan dengan bahan dasarnya ubi kayu/singkong dengan beras yang dimasak dalam satu wadah.

Cara Pengolahan Uwi Kaju Ga’u.

Mula-mula beberapa batang ubi kayu/singkong dikupas. Setelah itu dicuci dengan air bersih sambil tetap direndam dalam wadah berisi air. Singkong kemudian di iris tipis-tipis seperti biji dadu hingga selesai. Selanjutnya 2 gelas beras dicuci dan dimasak terlebih dahulu hingga setengah matang dalam wadah periuk. Jika nasi sudah setengah matang irisan ubi dimasukan dan diaduk-aduk hingga tercampur dengan rata antara bagian atas, tengah dan bawah. Biarkan beberapa menit hingga campuran ubi dan nasi benar-benar matang. Jika sudah matang uwi kaju ga’u sudah siap dihidangkan dengan ditemani beberapa kuah misalnya kuah ikan asap yang disantan. Dengan kreasi ini Uwi Kaju/Uwi Ai Ga’u menjadi panganan pengganti dalam pola makanan sehari-hari bagi masyarakat.

Jangan pandang sebelah mata ubi kayu atau singkong (Manihot utilissima). Singkong sangat potensial sebagai bahan pangan sumber karbohidrat pengganti nasi. Keunggulan lain dari singkong adalah kaya akan vitamin A dan vitamin C. Singkong juga bisa diolah menjadi beragam kue dan masakan lezat serta bergizi.

Image singkong jenis makanan murah dan tidak bergizi harus ditepis. Faktanya, umbi singkong kaya akan kandungan zat gizi, seperti karbohidrat, protein, lemak, kalsium, fosfor, zat besi, vitamin A, vitamin B, dan vitamin C. Dari sisi budidaya, singkong mudah tumbuh dan menghasilkan umbi yang melimpah. Sangat potensial sebagai alternatif pengganti sumber karbohidrat impor seperti beras.

OLEH : IHSAN D.

 

Kamis, 03 Desember 2015

DAFTAR SEKOLAH-SEKOLAH DI KECAMATAN NDONA KABUPATEN ENDE NUSA TENGGARA TIMUR

TKS MARIA VIRGO 1


Radawuwu

TKS St.FransiskusXaveriusWolotopo


WolotopoTimur

TKS Kapolando


Desa Manulondo

TK OsoSomboLokoboko


Lokoboko

KB A BungaMawar


DusunSokomaki

SD KatolikWolotopo 1


Wolotopo

SMP Katolik St. Aloysius


WolotopoTimur

SD KatolikWolowusu


Wolowusu

SD InpresWolotopo


Wolotopo

SD KatolikWolokota


Wolokota

MIS Al-amanahLokoboko


Watutoro

SD KatolikReka


Reka

SMP Negeri 3 Ndona


Puutuga

SD KatolikPuutuga


Puutuga

SD InpresNdona 3


Onelako

SD KatolikWolotopo 2


Onelako

SD KatolikNdona 2


Onelako

SD InpresNdona 4


Onelako

SMP Katolik St. Antonius


Onelako

SD KatolikLainila


Nila

SD Inpres Lai


Nila

SD InpresNgalupolo


Ngalupolo

SD KatolikNgalupolo


Ngalupolo

SD InpresNgaluroga


Ngaluroga

SMP Negeri 2 Ndona


Ngalupolo

SMP Katolik St. Gabriel


Nanganesa

SD InpresOtombamba


Nanganesa

SD Katolik Mondo


Mondo

SD InpresLoworongga


Loworongga

SMP Negeri 1 Ndona


Lokoboko

SD KatolikLokoboko


Lokoboko

SD KatolikNdona 1


Lokoboko

SD InpresLokoboko


Lokoboko

SMK Pelayaran St. Paskalis


Lokoboko

SD KatolikDedu


Kelikiku

SD InpresKoagata


Kelikiku

SD KatolikKekasewa


Kekasewa

SMK SANTO VINCENTIUS NDONA


NPSN:69903631

Status Sekolah:Swasta

BentukPendidikan :SMK

AlamatKompleks Istana Keuskupan Agung Ende

RT / RW12 / 6DusunRADAWUWUDesa / KelurahanKel.OnelakoKecamatanKec. Ndona 86361

DokumendanPerijinan

SK Pendirian Sekolah:378/KEP/HK/2015Tanggal SK PendiriaN:2015-07-27

Status Kepemilikan: YayasanSK IzinOpeasional:378/KEP/HK/2015Tanggal SK IzinOperasional:2015-07-27

SMAK St. Thomas MorusEnde :Jalan Flores, DesaNanganesa, KecamatanNdona.